Hubungan Sintaksis dan Semantik


HUBUNGAN SINTAKSIS DAN SEMANTIK
SINTAKSIS

Sintaksis merupakan bagian-bagian dari subsistem gramatika atau tata bahasa. Sintaksis yang juga disebut tata kalimat merupakan studi gramatikal mengenai kalimat. Dalam sintaksis kata menjadi satuan yang terkecil yang membentuk satuan-satuan gramatikal yang lebih besar. Dalam praktek sintaksis pada umumnya membatasi pembicaraannya sampai kepada kalimat, artinya menganggap kalimat sebagai satuannya yang terbesar walaupun sebenarnya kalimat bukan satuan yang terbesar dalam bahasa.

ALAT SINTAKSIS
1.     Urutan
Dalam bahasa pada umumnya peranan urutan kata ikut menentukan maknagramatikal. Contoh :
-  Tinggi gunung dan gunung tinggi
-  Tiga jam dan jam tiga
-  Dino mencubit Ronso dan Ronso mencubit Dino Memperlihatkan pentingnya peranan urutan dalam bahasa Indonesia.

2.     Bentuk Kata
Yang pada umumnya diperlihatkan oleh Afiks. Afiks-afiks itu menunjukkan makna gramatikal yang bermacam-macam, bergantung kepada bahasanya : jumlah, orang, jenis, kala, aspek, modus, diatesis, dan sebagainya.

3.     Intonasi
Secara tidak sempurna dengan tanda-tanda baca dan pemakaian huruf. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, biasanya batas antara pokok (topik) dan sebutan (comment) ditunjukkan oleh intonasi.

SATUAN SINTAKSIS

Telah dikatakan gramatikal membentuk sistem dimana satuan yang bertinkat lebih rendah menjadi konstituen dari konstruksi yang bertingkat lebih tinggi. Demikianlah tata bahasa mengenal tingkat kalimat, tingkat klausa, tingkat frase, tingkat kata, dan tingkat morfem.
1.     Tingkat Kalimat
Ialah tingkat tata bahasa dimana kalimat dipecah menjadi konstituen dasar yang pada umumnya berupa klausa, intonasi, serta partikel penghubung jika ada.
2.     Tingkat Klausa
Ialah tingkat tata bahasa dimana klausa dipecah menjadi subyek, predikat, objek, dan berbagai keterangan, yang masing-masing dinyatakan dengan kata atau/dan frase.
3.     Tingkat Frase
Ialah tingkat tata bahasa dimana kelompok kata berstruktur yang bukan klausa dipecah menjadi kata.
4.     Tingkat Morfem
Ialah tata bahasa dimana morfem terlihat sebagai konstituen bermakna yang kecil. Tiap morfem didaftar dalam leksikon (yang menyertai tata bahasa) dengan keterangan mengnai bentuk, kelas, dan maknanya.

HUBUNGAN ANTAR KONSTITUEN
Setiap konstruksi baik berupa kata, frase, klausa, maupun kalimat disusun oleh beberapa konstituen. Jenis satuan-satuan yang menjadi konstituen-konstituen pembentuk konstruksi mempunyai peranan dalam menandai perbedaan diantara berbagai konstruksi.

JENIS DALAM SATUAN GRAMATIKAL
1.     Jenis Kalimat
Dapat digolongkan dalam 5 ukuran :
-     Jumlah dan macam klausa
-     Struktur intern klausa atasan atau utama
-     Jenis tanggapan yang diharapkan
-     Sifat hubungan pelaku perbuatan dalam klausanya
-     Ada atau tidaknya unsur ingkar dalam predikat utama

ANALISA SINTAKSIS
Telah dikemukakan bahwa salah satu tugas sintaksis ialah menerangkan pola-pola yang mendasari satuan-satuan sintaksis serta konstituen-konstituennya. memberikan pola-pola seperti itu tidak lain mengemukakan hasil analisa satuan-satuan sintaksis itu.

SEMANTIK
Kata Inggris semantics yang dalam bahasa Indonesia menjadi semantik, berasal dari bahasa Yunani. Sema ’tanda’ (kata benda) atau kata kerjanya samaino ’menandai’, ’berarti’. Kata itu kemudian disetujui oleh para ahli bahasa sebagai istilah untuk bidang ilmu bahasa yang membahas tentang makna yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa : fonologi, tata bahasa dan semantik.
Seperti halnya tataran analisis bahasa lainnya, analisis semantik sebuah bahasa yang hanya berlaku untuk bahasa yang bersangkutan. Konsep makna tiap bahasa bersifat arbitrer : hanya berlaku untuk bahasa yang bersangkutan. Oleh karena itu para penterjemah perlu benar menyadari kenyataan ini dalam melakukan tugasnya.

JANGKAUAN SEMANTIK
Dalam artinya yang luas semantik membahas tentang makna, baik makna yang terdapat dalam morfem, kata, kalimat, maupun dalam wacana. Disamping makna gramatikal kita mengenal juga makna leksikal. Dalam pada itu kita mengenal juga makna kalimat dalam ikatan atau hubungannya dengan wacana.
Mempelajari makna hakekatnya juga berarti mempelajari bagaimana setiap pemakai bahasa dalam suatu masyarakat bahasa bisa saling mengerti. Untuk menyusun kalimat yang dapat dimengerti, sebagian dituntut agar pemakai mentaati kaidah gramatikal, sebagian lain harus tunduk kepada kaidah pilihan kata menurut sistem leksikal yang berlaku pada bahasa itu. Dengan kata lain disamping sistem gramatikal, di dalam bahasa juga terdapat sistem leksikal. Keduanya saling berkaitan.
Tetapi makna sebuah kalimat, sering tidak hanya bergantung kepada sistem gramatikal dan leksikal saja, melainkan juga bergantung kepada kaidah wacana. Makna sebuah kalimat yang baik pilihan katanya dan susunan gramatikalnya, sering tidak dapat dipahami tanpa memperhatikan hubungannya dengan kalimat lain dalam sebuah wacana. Cerita berikut mungkin dapat membantu menjelaskan betapa pentingnya kaidah wacana dalam membentuk makna kalimat.
Semantik yang akan kita bahas dalam bab ini akan terbatas kepada pembahasan makna leksikal. Satuan bahasan yang akan menjadi pokok adalah satuan bahasa yang disebut kata. Hanya saja biasanya pembentukan makna leksikal tidak hanya dinyatakan dalam satuan kata. Satuan makna juga dapat dibentuk dengan bentuk yang lebih besar dari kata, dapat berupa frase atau klausa, yakni pembentukan makna lekdsikal yang sering disebut makna idiomatik.

MAKNA LEKSIKAL DAN HUBUNGAN REFERENSIAL
Makna leksikal secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua golongan besar : makna dasar dan makna perluasan, atau lebih dikenal dengan makna denotative dan makna konotatif. Sebelum membahas kedua makna tersebut lebih dahulu akan dijelaskan perhubungan yang terdapat antara (1) kata, sebagai satuan fonologis yang ’membawa’ makna (2) makna atau konsep yang dibentuk oleh kata, dan (3) dunia kenyataan yang ditunjuk oleh makna kata. Hubungan antara kata, makna kata, dan dunia kenyataan itu disebut hubungan referensial.

MAKNA DENOTATIF
Makna denotative itu tidak saja menunjuk makna kata-kata yang mudah ditemukan dalam kenyataan yang ditunjuk kata itu seperti kamus, anjing, memukul, membawa, atau lalu lintas; tetapi ada beberapa kata yang mengandung makna denotatif yang cukup khusus. Kata-kata dimaksud antara lain kata-kata deiktis, yakni kata-kata yang mempunyai makna menunjuk seperti ini, itu, kesana, kemari dan sebagainya; kata bilangan seperti satu, dua dan tiga: kata-kata yang menunjukkan hubungan atau kata-kata yang mempunyai makna relsional seperti dan atau, tetapi dan meskipun.
Makna denotatif sering juga disebut makna kognitif konseptional, atau juga makna referensial.

MAKNA KONOTATIF
Bilamana makna denotatif adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan. Makna konotatif itu sangat luas dan tidak dapat diberikan secara tepat. Kata perempuan tersebut, disamping makna denotatifnya mungkin pula ditambah dengan salah satu unsur psikologis fisik, atau sosial untuk memperoleh makna konotatif. Semuanya itu dapat menjadi unsur untuk menumbuhkan makna konotatif.

MAKNA IDIOMATIK
Kata-kata yang disusn dengan kombinasi kata lain sering menghasilkan makna yang berlainan dengan kata-kata yang menjadi konstituennya.

PERHUBUNGAN ANTAR MAKNA
Kata-kata biasanya mengandung komponen makna yang kompleks. Hal ini mengakibatkan adanya berbagai pertimbangan yang memperlihatkan kesamaan, pertentangan, tumpah tindih, dan sebagainya. Dalam hubungan ini para ahli semantik telah mengklasifi-kasikan perhubungan makna itu dalam berbagai kategori, seperti sinonimi, polisemi, hiponimi, antonimi dan sebagainya. Berikut akan dijelaskan beberapa kategori yang penting dalam pembahasan semantik.

a.     Sinonimi
Dua buah kata yang mempunyai kemiripan makna diantaranya disebut dua kata yang sinonim.

b.     Polisemi
Hiponimi menyatakan hubungan makna yang mengandung pengertian hubungan hierarkis. Bila sebuah kata memiliki semua komponen makna kata lainnya, tetapi tidak sebaliknya, maka perhubungan ini disebut hiponim.
Hiponimi kemudian menjadi dasar pendekatan yang dikenal dengan ’Semantic Field’ atau ’Semantic domain’, yaitu suatu pendekatan semantik yang mencoba melakukan klasifikasi makna berdasarkan kesamaan komponen makna.

c.     Hiponimi dan Polisemi
Bila terdapat dua buah makna atau lebih yang dinyatakan dengan sebuah bentuk yang sama, maka perhubungan makna dan bentuk itu disebut homonimi (sama nama) atau juga sering disebut homofoni (sama bunyi). Dalam bahasa Indonesia kata bisa dalam Dia tak bisa datang. Kedua kata bisa itu disebut homonim karena kedua maknanya dinyatakan dalam satu bentuk. Selanjutnya sebuah kata juga dapat mempunyai lebih dari satu makna. Kata seperti pukul dapat menyatakan makna (1) ’jam’ seperti terdapat dalam pukul tiga, dapat pula mempunyai makna (2) kegiatan memukul. Kata yang mempunyai banyak makna disebut polisemi.

d.     Antonimi
Perhubungan makna yang terdapat antara sinonimi, homonimi, hiponimi, atau [polisemi, bertalian dengan kesamaan-kesamaan; antonimi, sebaliknya, dipakai untuk menyebut makna-makna yang berlawanan. Bentuk-bentuk seperti laki-laki, hidup, gadis, masing-masing berantonim dengan perempuan, mati, dan janda. Dan kata-kata yang berlawanan makna itu disebut mempunyai perhubungan yang bersifat antonimi.

ANALISIS KOMPONEN
Pendekatan ini didasarkan kepada kepercayaan bahwa makna kata dapat dipecah-pecah menjadi elemen-elemen makna yang merupakan ciri makna kata yang bersangkutan. Elemen-elemen itu disebut komponen makna, oleh karena itu pendekatan ini disebut ”analisis komponen”.
-         Beberapa Sifat Oposisi
Dasar yang dipakai untuk menentukan ciri atau komponen arti adalah posisi komponen makna dengan komponen lain yang berlawanan. Oleh karena itu perlu diberikan gambaran singkat tentang sifat oposisi antara sekelompok komponen makna dengan kelompok lainnya.
-         Oposisi Polar
Oposisi yang terdapat pada contoh-contoh komponen makna yang telah dikemukakan seperti BERNYAWA/TAK BERNYAWA, MANUSIA/BINATANG, atau PRIA/WANITIA adalah oposisi yang bersifat ’ya’ atau ’tidak’ ; tetapi oposisi yang terdapat dalam panjang, tinggi, lebar, dan kata-kata sifat lainnya tidak merupakan oposisi yang mutlak. Oposisi yang terdapat pada contoh-contoh itu didasarkan kepada dua ekstrim atau dua kutub (pole): panjang sekali dan pendek sekali. Lalu diantara dua ekstrim terdapat titik tengah yang memisahkan dua kutub atau dua ekstrim. Titik ini merupakan pengukur untuk mengatakan sesuatu itu panjang atau pendek misalnya : Oposisi semacam itu disebut oposisi polar.

- Oposisi Relasional
Oposisi yang dekat dengan oposisi polar adalah oposisi antar komponen yang mengandung hubungan        relasional.

-  Oposisi Majemuk
Contoh-contoh komponen makna yang telah diberikan merupakan oposisi yang bersifat dua sisi, oposisi biner. Sekalipun kebanyakan oposisi dalam bahasa bersifat biner, namun ada sejumlah oposisi yang lebih dari dua sisi. Oposisi benda yang mengandung logam seperti emas beroposisi dengan lebih dari dua, yakni perak, besi dan timah. Demikian juga klasifikasi binatang lebih dari dua, di samping binatang berkaki empat, juga ada binatang berkaki dua, dan binatang melata; selanjutnya juga tentang klasifikasi pohon-pohonan, atau juga warna. Oposisi semacam itu disebut oposisi majemuk (mulyiple taxonomies). Contoh lain, misalnya tentang posisi berdiri bukan saja berlawanan dengan duduk, tetapi juga dengan berbaring.

HUBUNGAN SEMANTIK DENGAN SINTAKSIS

     Tidak benar bahwa unsur gramatikal mutlak terpisah dari unsur leksikal. Untuk apat menyusun kalimat yang dapat dimengerti oleh lawan bicara tidak cukup hanya dengan menggabungkan beberapa kata dengan kaidah-kaidah gramatikal semata. Tiap kata menyarankan dngan kata mana dapat bergabung menjadi satu kalimat yang dapat dipahami pihak peserta pembicaraan.

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s